LCD Text Generator at TextSpace.net TINGALKAN KOMENTAR BERUPA KRITIK ATAU SARAN DEMI KESEMPURNAAN BLOG INI TERIMA KASIH WASALAM ........

Minggu, 01 November 2015

PROGRES DAK SDN 16 BTM






LAPORAN PKP 2015.2

BAB I
PENDAHULUAN

A. Latar Belakang Masalah.
Fokus utama tujuan pengajaran Bahasa Indonesia meliputi empat aspek keterampilan berbahasa yaitu keterampilan menyimak, keterampilan berbicara, keterampilan membaca dan menulis. Keempat aspek kemampuan berbahasa tersebut saling berkaitan erat, sehingga merupakan satu kesatuan dan bersifat hirarkis, artinya keterampilan berbahasa yang satu akan mendasari keterampilan berbahasa yang lain.
Di sekolah pembelajaran bahasa Indonesia memang memiliki peranan yang sangat penting dibandingkan dengan pembelajaran yang lain. Seperti yang dikemukakan Akhadiah dalam Darmiyati Zuchdi dan Budiasih (2001 : 57), bahwa pembelajaran membaca, guru dapat berbuat banyak dalam proses pengindonesiaan anak-anak Indonesia. 
Dalam pembelajaran membaca, guru dapat memilih wacana yang berkaitan dengan tokoh nasional, kepahlawanan, kenusantaraan dan kepariwisataan. Selain itu, melalui pembelajaran membaca, guru dapat mengembangkan nilai-nilai moral, kemampuan bernalar dan kreativitas anak didik. 
Pembelajaran membaca di kelas III merupakan pembelajaran membaca tahap awal, salah satuya adalah membaca nyaring. Dengan membaca nyaring siswa akan mengenali huruf-huruf dan membacanya sebagai suku kata, kata dan kalimat sederhana. 
Kemampuan membaca nyaring siswa SDN 04 Botumoito  belum mencapai Kriteria Ketuntasan Minimal yang di tetapkan yaitu sebesar 6,5 dan indikator keberhasilan 75 % jumlah siswa mencapai KKM. Pada Kompetensi Dasar 3. 1 membaca nyaring suku kata dan kata dengan lafal yang tepat, nilai rata-rata yang dicapai siswa hanya mencapai 57,50. Hal ini dapat dilihat dari hasil belajar siswa. Dari 22 siswa kelas III SDN 04 Botumoito  2 anak mendapat nilai 80 sebanyak 10%, 7 anak mendapat nilai 70 sebanyak 25%, 4 anak mendapat nilai 60 sebanyak 20%, 5 anak mendapat nilai 50 sebanyak 25%, dan 4 anak mendapat nilai 40 sebanyak 20 % dan aktivitas belajar siswa rendah. 
Setelah peneliti mencermati ternyata siswa kurang tertarik dan kurang aktif dalam mengikuti pembelajaran membaca nyaring. Hal ini disebabkan oleh guru yang dalam pembelajaran membaca nyaring sering menggunakan metode ceramah, dan belum menggunakan metode ceramah, dan belum menggunakan metode bersesuaian dalam proses, sehingga siswa mendapat pemahaman yang masih agak dibawah standar yang diharapkan. 
Upaya meningkatkan kemampuan membaca nyaring merupakan kebutuhan yang mendesak untuk dilakukan. Langkah yang peneliti tempuh adalah menyediakan alat peraga kongkrit yaitu media pias-pias kata. Media Teks Dongeng dalam pembelajaran Bahasa Indonesia dapat memberikan pengalaman kongkrit, meningkatakan motivasi belajar siswa dan mempertinggi daya serap siswa serta siswa dapat memusatkan perhatiannya dalam belajar. Melalui penggunaan media Teks Dongeng diharapkan taraf kesukaran dan kompleksitas dari pembelajaran Bahasa Indonesia yang memberi pengaruh yang cukup besar dalam proses belajar sehingga hasilnya akan lebih baik. 
Untuk mengetahui seberapa banyak siswa kelas III SDN 04 Botumoito  yang belum lancar membaca, guru memberikan ulangan atau tes tentang membaca. Melalui tes membaca dapat diketahui baik tidaknya kemampuan membaca nyaring. Pengaruh penggunaan media pada proses pembelajaran memberikan dorongan pada guru dalam menyampaikan pembelajaran membaca nyaring.
Hal yang perlu diperhatikan dalam pembelajaran membaca nyaring adalah penggunaan media pias-pias kata. Penggunaan media tersebut harus disesuaikan dengan materi atau pokok bahasan yang akan disampaikan misalnya kartu nama, kartu huruf, kartu suku kata, kartu kata atau Teks Dongeng dan kartu kalimat. Media tersebut digunakan dalam pembelajaran membaca nyaring pada siswa kelas III Sekolah Dasar.




B. Rumusan Masalah dan Pemecahannya.
1. Rumusan Masalah
Apakah penggunaan media Teks Dongeng dapat meningkatkan keterampilan membaca nyaring pada siswa kelas III SDN 04 Botumoito ?

2. Rencana Pemecahan Masalah.
a. Membuat RPP yang menggunakan media Teks Dongeng untuk meningkatkan
    keterampilan membaca nyaring pada siswa kelas III
b. Membelajarkan siswa membaca nyaring dengan menggunakan media teks
c. Membuat lembar pengamatan siswa untuk mengetahui kemampuan siswa
    dalam membaca nyaring.
d. Mengukur pemahaman siswa tentang membaca nyaring sesudah proses   
    pembelajaran.

C. Tujuan Penelitian.
Dalam proposal penelitian tindakan kelas III ni bertujuan untuk meningkatkan keterampilan membaca nyaring melalui media Teks Dongeng pada siswa kelas III SDN 04 Botumoito

Sabtu, 09 Mei 2015

MAKALAH KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH

BAB I
PENDAHLUAN


A.     LATAR BELAKANG

Kepala sekolah adalah tokoh sentral dalam peningkatan mutu pendidikan di sekolah. Berhasil atau tidaknya sebuah lembaga pendidikan khususnya pada satuan pendidikan akan sangat dipengaruhi oleh kompetensi yang dimiliki kepala sekolah tersebut,
Peraturan Menteri Pendidikan Nasional Nomor  13 Tahun 2007 tentang Standar Kepala sekolah / madrasah menegaskan bahwa seorang kepala sekolah/ madrasah harus memiliki limadimensi kompetensi minimal yaitu: kompetensi  kepribadian, manajerial, kewirausahaan, supervisi, dan sosial. Kepala sekolah /madrasah adalah guru yang diberi tugas tambahan sebagai kepala sekolah/madrasah  sehingga ia pun harus memiliki kompetensi yang disyaratkan memiliki kompetensi guru yaitu: kompetensi paedagogik,  kepribadian, sosial, dan profesional
Berdasarkan kenyataan tersebut, maka menjadi sangat penting bagi kepala sekolah menguasai Kompetensi Kepala Sekolah Dalam Upaya Peningkatan Mutu Pendidikan di Satuan Pendidikan.

B.     RUMUSAN MASALAH
1. Bagaimana Pengertian Kompetensi Kepala Sekolah
2. Bagaimana kajian terhadap Komptensi Kepala Sekolah
C.     TUJUAN PEMBAHASAN
1. Memahami Pengertian Kompetensi Kepala Sekolah
2. Dapat mengimplementasikan kompetensi Kepala Sekolah secara nyata sesuai
    Kompetensi yang diamanat oleh permendiknas no 13 tahun 2007


BAB II
PEMBAHASAN

A. KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH

Kompetensi memainkan peran kunci dalam mempengaruhi keberhasilan kerja, terutama dalam pekerjaan – pekerjaan yang menuntut sungguh-sungguh inisiatif dan inovasi. Kompetensi dipahami berkaitan dengan pentingnya hasrat untuk menguasai orang lain, dan secara lebih luas berkaitan dengan menciptakan peristiwa dan bukan sekedar menanti secara pasif, hasrat ini disebut motif kompetensi. Dalam diri orang dewasa motif kompetensi ini sangat mungkin muncul sebagai suatu keinginan untuk menguasai pekerjaan dan jenjang profesional.
Pengertian sederhana yang mendasar dari kompetensi adalah kemampuan atau kecakapan (Syah,2000:229).
Kemampuan atau kecakapan yang dimaksudkan dalam kompetensi itu menunjuk kepada satu hal  yang menggambarkan kualifikasi atau kemampuan seseorang, baik kemampuan atau kecakapan kualitatif maupun kuantitatif.
Ranupandoyo dan Husnan (1995:155) mengidentikan kemampuan dengan ketrampilan kerja yang berbentuk dari pendidikan dan latihan serta pengalaman kerja. Keith Davis (dalam Anwar, 2000:67) membedakan kemampuan dengan ketrampilan.
Kompetensi merupakan perpaduan dari penguasaan pengetahuan, ketrampilan, nilai dan sikap yang direfleksikan dalam kebiasaan berfikir dan bertindak pada sebuah tugas/pekerjaan. Kompetensi juga merujuk pada kecakapan seseorang dalam menjalankan tugas dan tanggung-jawab yang diamanatkan kepadanya dengan hasil baik dan piawai/mumpuni (Margono,2003).
Dalam Keputusan Menteri Pendidikan Nasional No. 045/U/2002 disebutkan bahwa kompetensi sebagai seperangkat tindakan cerdas dan penuh tanggung jawab dalam melaksanakan tugas-tugas sesuai dengan pekerjaan tertentu

Beberapa Inteligensi Profesionalisme Kepala Sekolah
( Permendiknas No. 13 Tahun 2007 )
Ranah Kecerdasan
KOMPETENSI KEPALA SEKOLAH
Jlh
%
Kepri
badian
Manajerial
Kewira
usahaan
Supervisi
sosial


Intelektual
-
9
4
3
 -
15
30%
Emosional
3
10
3
3
3
22
44%
Spritual
3
6
1
1
2
13
26%

Berdasarkan data dan grafik diatas , pada kompetensi kepribadian tidak terdapat  indikator  yang masuk ranah intelektual , manajerial 9 indikator ranah intelektual , kewirausahaan 4 indikator, supervisi 3 indikator , dan sosial tidak terdapat indikator yang masuk ranah kecerdasan intelektual
pada kompetensi kepribadian terdapat  3 indikator  yang masuk ranah emosional , manajerial 10 indikator ranah emosional, kewirausahaan 3 indikator, supervisi 3 indikator , dan sosial terdapat 3 indikator yang masuk ranah kecerdasan emosional